Kegiatan Mupunjung di Kabuyutan Bojongloa: Pelestarian Tradisi dan Nilai Budaya

Karangampel, Ciamis, 24/02/2025 – Hari ini, masyarakat Desa Karangampel kembali menggelar tradisi Mupunjung di Kabuyutan Bojongloa. Acara yang berlangsung di Dusun Barugbug ini dihadiri oleh aparat desa, perwakilan dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis, para penggiat sejarah dan budaya serta masyarakat Desa Karangampel. Tradisi ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur. 


Mupunjung sendiri merupakan sebuah tradisi yang dilakukan setiap tahun pada hari Senin terakhir di bulan Sya’ban. Dalam kegiatan ini, masyarakat berkumpul untuk melakukan ziarah ke makam para leluhur, termasuk makam Kyai Malang Karsa, seorang tokoh penyebar Islam yang sangat dihormati di wilayah ini. Rangkaian acara dimulai dengan pembersihan area makam, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama untuk mendoakan arwah para leluhur.


Menurut Kepala Desa Karangampel, kegiatan ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi momen refleksi bagi masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. “Mupunjung adalah wujud penghormatan kita kepada para leluhur. Ini adalah bagian dari jati diri kita sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan budaya,” ujarnya.


Sejarah mencatat bahwa Kabuyutan Bojongloa merupakan salah satu wilayah yang memiliki peranan penting dalam perkembangan Galuh pada masa lampau. Berdasarkan catatan sejarah, Galuh Bojongloa merupakan salah satu dari sembilan wilayah Kandaga Lante yang terbentuk akibat invasi Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Pada masa itu, Galuh Bojongloa berada di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon sebelum akhirnya mengalami pemecahan wilayah.


Salah satu tokoh penting dalam sejarah Bojongloa adalah Kyai Malang Karsa. Beliau merupakan seorang ulama yang diutus oleh Kerajaan Mataram untuk menyebarkan agama Islam di wilayah ini. Namanya tetap harum hingga kini, dan banyak ajarannya yang masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Bahkan, beberapa pantangan atau ‘pantrangan’ yang berlaku hingga saat ini dipercaya berasal dari ajaran beliau, seperti larangan menebang kayu di sekitar makamnya dan larangan memakan ikan bebeong.


Kegiatan Mupunjung tahun ini berlangsung dengan khidmat dan penuh rasa syukur. Para peserta berharap agar tradisi ini dapat terus dilestarikan oleh generasi mendatang sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan budaya leluhur. “Kami ingin anak-anak muda tetap mengenal dan mencintai tradisi ini. Mupunjung bukan sekadar ritual, tetapi juga pengingat bahwa kita memiliki sejarah yang kaya dan bernilai tinggi,” ujar salah satu tokoh masyarakat.


Dengan terselenggaranya acara ini, masyarakat Karangampel kembali meneguhkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Harapannya, tradisi ini dapat terus berlanjut dan tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat di masa mendatang.

 

Share Berita